Investasi Sukuk yaitu Obligasi yang Syariah

From The Desk Of Iwan Pontjowinoto

Dalam sistem akuntansi, dana yang ditempatkan ke dalam suatu perusahaan dalam bentuk modal dibukukan sebagai setoran modal, instrumennya adalah saham. Sedangkan bila ditempatkan sebagai pembiayaan jangka panjang dibukukan sebagai kewajiban – karena ada kewajiban untuk mengembalikan dana tersebut. Instrumennya di pasar modal lazim disebut sebagai obligasi.

 

Kata obligasi berasal dari obligation (Inggris) yang artinya ‘kewajiban’. Sedangkan di luar negeri, obligasi lazim disebut bond yang artinya ‘ikatan’. Sedangkan ikatan dalam bahasa Arab adalah aqad.

Pada awalnya obligasi yang sesuai prinsip Syariah disebut Obligasi Syariah. Tapi kemudian istilah tersebut diganti dengan istilah sukuk, yakni istilah bahasa Arab yang padanan katanya dalam bahasa Indonesia adalah ‘surat berharga’, yang dalam UU Pasar Modal disebut sebagai ‘Efek’.

 

Jadi obligasi (kewajiban) = bond (ikatan = aqad) = sukuk (efek).

 

Dalam industri keuangan Syariah, Sukuk berarti sertifikat atau bukti kepemilikan yang bernilai sama dan mewakili bagian penyertaan yang tidak terpisahkan atas: 1) kepemilikan aset berwujud tertentu, 2) nilai manfaat dan jasa atas aset proyek atau aktivitas investasi tertentu, atau 3) kepemilikan atas aset proyek atau aset investasi tertentu.

 

Suatu pembiayaan jangka panjang dapat disebut sebagai Sukuk (Obligasi Syariah) bila akadnya sesuai Syariah dan obyek pembiayaan juga sesuai Syariah. Obyek pembiayaan harus mempunyai underlying asset berupa aset berwujud (yang sudah jadi), atau aset proyek (masih sedang/akan dibuat) atau aktivitas investasi yang sesuai Syariah.

 

Jadi dalam cerita kita tentang Ahmad, Benny dan Cecep adalah harus jelas sapi betina-nya. Maksudnya agar dana yang diberikan harus menjadi atau terkait dengan suatu aset sehingga risiko pembiayaan dapat dikendalikan. Disamping itu juga agar manfaat dari pembiayaan dapat terukur secara finansial sehingga manfaat yang dibagikan kepada pemilik dana (pemegang Sukuk) juga jelas besaran dan asal usulnya.

 

Jadi dalam cerita kita, bila memerlukan tambahan dana maka PT Al Baqarah dapat menerbitkan saham baru ataupun menerbitkan sukuk. Akadnya bisa bermacam-macam tergantung pada kesepakatan antara pemilik dana dengan perusahaan.

 

Bila akadnya mudharabah, maka pemilik dana akan mendapat bagi hasil.  Bila murabaha  maka akan mendapat bagian dari marjin atau selisih harga pembelian sapi di awal periode sukuk dengan nilai sapi di akhir periode sukuk. Sedangkan bila akadnya ijarah maka pemilik dana akan mendapatkan bayaran sewa dari manfaat yang diperoleh perusahaan dengan mempunyai sapi.

 

Jadi investasi pembiayaan jangka panjang di pasar modal juga bisa sesuai prinsip Syariah lho.