Investasi Saham yang Syariah

From The Desk Of Iwan Pontjowinoto

Allah SWT telah berfirman: “Dia telah menjadikan sebagian manusia lebih baik dari sebagian yang lain, agar dapat berguna bagi yang lain.” (QS 43:32).

Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa Allah SWT telah berfirman:

“Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang berserikat, selama salah satu pihak tidak mengkhianati yang lain. Jika salah satu pihak berkhianat, Aku keluar dari (perserikatan) mereka.”

 

Dari ayat dan hadits tersebut diatas jelas bahwa manusia harus bekerjasama agar dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka secara lebih baik. Kerjasama yang utama adalah berserikat menjalankan kegiatan usaha.

 

Misalnya ada 3 sekawan, Ahmad, Benny dan Cecep sepakat membeli sapi betina untuk mereka pelihara dimana susunya akan dijual, kotorannya akan dibuat pupuk, dan mudah-mudahan bisa melahirkan anak sapi. Mereka membeli 4 ekor sapi dengan harga Rp.48 juta, jadi masing-masing menyerahkan modal Rp.16 juta dan memiliki sepertiga dari ke-4 sapi tersebut. Setelah setahun berjalan, ternyata 3 sapi sudah bunting, menghasilkan susu yang sangat banyak, dan kotorannya juga telah diolah menjadi pupuk. Selama setahun tersebut, mereka mendapat banyak keuntungan dari penjualan susu dan pupuk.

 

Mereka ingin meningkatkan kegiatan usahanya dengan menambah 6 ekor sapi yang harganya @ Rp.15 juta. Untuk itu mereka mendirikan perusahaan berbentuk perseroan terbatas  dengan nama PT Al Baqarah. Setoran modal Rp.48 juta dibagi dalam 48 lembar saham dengan nilai nominal @ Rp.1 juta.  Dan perusahaan memiliki aset berupa 4 ekor sapi betina yang sekarang nilainya 4 x Rp.15 juta.

 

Secara fisik, saham berbentuk dokumen alias tulisan di atas kertas. Tetapi kepemilikan saham bukanlah kepemilikan atas kertas tersebut, melainkan kepemilikan atas bagian dari perusahaan tersebut yang memiliki aset berupa 4 ekor sapi betina.

 

Kerjasama yang lain adalah antara pihak yang memiliki peluang usaha tetapi tidak mempunyai cukup modal (dana) dengan pihak yang memiliki dana namun sedang tidak punya peluang usaha. Dalam hal ini, pihak yang memiliki dana mengadakan investasi dengan membeli saham PT Al Baqarah. Tentunya jumlah lembar saham baru PT Al Baqarah ditentukan berdasarkan kesepakatan para pemegang saham.

Investasi ini sesuai Syariah, karena:

  1.  Usaha PT Al Baqarah tidak melanggar prinsip Syariah,
  2. Instrumen investasi berupa saham juga sesuai Syariah, dan
  3. Akad penempatan dana yang disebut akad Musyarakah juga sesuai Syariah. Mudah-mudahan semuanya barokah. Aamiin.

Bagaimana kalau pemilik dana yang baru itu ternyata tidak ingin menempatkan dana dalam bentuk saham, melainkan dalam bentuk pembiayaan jangka panjang. Instrumen dan akad apa yang cocok? Tunggu tulisan  saya berikutnya.