Langkah Bijak Mengelola THR

From The Desk of Prita Hapsari Ghozie

Lebaran tahun 2018 memberikan banyak harapan cerah bagi kaum pekerja. Bukan hanya karyawan swasta, tahun ini para PNS dan juga pensiunan telah diumumkan akan menerima Tunjangan Hari Raya. Jika tidak dikelola dengan bijak, maka bisa jadi dana rezeki ini akan menguap untuk hal yang sia-sia. Agar dapat memberikan manfaat optimal, maka perencanaan keuangan menjadi jawaban untuk kelola Tunjangan Hari Raya.

 

Dalam perencanaan keuangan, dana THR termasuk penghasilan non-rutin yang diterima sebanyak satu kali dalam satu tahun. Penggunaan THR pastinya ditujukan untuk keperluan Hari Raya. Namun, sebenarnya dana THR pun masih dapat dikelola untuk beberapa pos pengeluaran tidak rutin lainnya bahkan juga termasuk untuk melunasi utang. Ada lima langkah yang dapat diambil untuk pengelolaan THR.

 

Pertama, membuat pos-pos keuangan. Sebelum menerima THR, maka setiap pekerja sebaiknya membuat catatan untuk pos pengeluaran apa saja dana akan digunakan. Biasanya saya menggunakan panduan pos pengeluaran untuk zakat, pos pengeluaran untuk kebutuhan lebaran, pos pengeluaran untuk mudik, pos dana darurat, dan pos opsional untuk membayar utang dan berinvestasi. Pahami, untuk pengeluaran makanan dan minuman selama bulan Ramadan dan selama mudik sebenarnya dibayarkan dari gaji bulanan karena bagian dari pengeluaran rutin.

 

Kedua, memiliki dana darurat. Dana THR sebaiknya tetap disisihkan untuk keperluan tak terduga. Dana ini disisihkan di rekening yang terpisah, dan dapat digunakan apabila ada pengeluaran mendadak setelah momen lebaran. Selain itu, dapat juga digunakan jika ada musibah seperti sakit dan celaka. Alokasi ini sekitar 10% dari dana THR.

 

Ketiga, membedakan pengeluaran wajib, butuh, dan ingin. Penting sekali bagi setiap pekerja untuk membuat prioritas pengeluaran THR berdasarkan urutan ini. Mari kita cermati pengeluaran yang bersifat wajib seperti pembayaran zakat dan kebutuhan lebaran utama.

 

Bagi umat Muslim, ada kewajiban untuk menunaikan zakat fitrah bagi setiap orang dan dana THR harus dapat dialokasikan untuk pengeluaran ini. Selain itu, Anda pun dapat menambah sedekah, bantuan sosial, atau pun membayar zakat harta yang selama ini tertunda. Sebagai ilustrasi, zakat fitrah jumlahnya sekitar Rp35ribu hingga Rp40ribu, dan dapat dipastikan kepada panitia penerima zakat fitrah. Alokasinya bisa mencapai 10% dari dana THR.

 

Pengeluaran berikutnya yang bersifat wajib adalah kebutuhan lebaran. Contoh pengeluaran wajib adalah memberikan THR kepada para pekerja di rumah, serta hidangan lebaran. Mengingat dana terbatas namun keinginan tidak terbatas, pengendalian diri untuk alokasi kebutuhan lebaran menjadi sangat penting. Prioritaskan penggunaan dana THR untuk hak ke pekerja dan urusan hidangan lebaran. Jika ada sisa, maka baru digunakan untuk belanja yang bersifat kebutuhan dan keinginan.

 

Pengeluaran yang bersifat kebutuhan contohnya adalah pemberian angpao untuk saudara dan orang tua. Dua jenis pengeluaran ini diusahakan hanya mengambil porsi maksimal 50% dari dana THR. Sedangkan, pembelian baju lebaran baru, hantaran dan bingkisan lebaran, serta pembelian barang baru adalah pengeluaran yang bersifat keinginan. Tiga jenis pengeluaran ini diusahakan hanya mengambil porsi maksimal 50% dari dana THR.

 

Khusus untuk biaya mudik yang juga bersifat keinginan, saya sarankan alokasinya dipisahkan dari pengeluaran lebaran. Jika Anda juga akan menghabiskan libur lebaran dengan mudik mau pun liburan dengan keluarga, maka usahakan agar dana ini dialokasikan dari THR. Pengeluaran untuk biaya transportasi, biaya akomodasi, serta hadiah harus dihitung dengan cermat. Apabila Anda lebih memprioritaskan pos untuk mudik atau liburan, maka alokasi untuk kebutuhan lebaran harus diperkecil. Secara umum, idealnya penggunaan THR hanya maksimal 15% untuk pembelian tiket, biaya transportasi, serta akomodasi untuk mudik lebaran.

 

Keempat, membayar utang konsumtif terlebih dahulu. Apabila Anda sudah terlanjur menggesek kartu kredit atau pun mengambil pinjaman untuk urusan lebaran, maka dana THR sebenarnya sudah dialokasikan untuk membayar utang tersebut. Seluruh utang yang jatuh tempo akibat pembelanjaan tersebut harus dibayar dengan THR. Jika masih ada sisa lagi, Anda bisa mnafaatkan dana THR untuk mengurangi jumlah pokok utang untuk pinjaman rumah atau pun pinjaman kendaraan.

 

Kelima, menambah aset investasi. Sebenarnya, penghasilan dari THR sangat baik untuk modal awal berinvestasi. Berbagai impian seperti dana pendidikan anak, dana uang muka pembelian rumah, dan lainnya dapat dibantu dengan investasi dana THR. Usahakan untuk dapat mengalokasikan sekitar 10% untuk berinvestasi. Pemilihan aset investasi sebaiknya tetap disesuaikan dengan jangka waktu berinvestasi dan profil risiko calon investor.

 

Saya juga ingin mengingatkan bahwa alokasi dana THR juga dapat disimpan untuk keperluan Idul Adha seperti dana untuk hewan kurban. Dalam dua bulan mendatang, kebutuhan ini akan timbul sedangkan Anda tidak lagi mendapatkan tunjangan. Oleh karena itu, usahakan untuk menyisihkan dana THR sekitar 10% untuk digunakan di periode Idul Adha.

 

Dana THR merupakan rezeki yang diberikan kepada setiap rumah tangga. Mari kita jadikan momen menyambut Hari Raya tahun ini sebagai titik balik menuju kesejahteraan keuangan keluarga.

 

Live a Beautiful Life!