Menyikapi Kondisi Pasar Modal

From the desk of Fioney Sofyan

Beberapa bulan belakangan ini, Indeks harga saham gabungan, atau sering disingkat menjadi IHSG mengalami penurunan yang signifikan, bahkan pergerakan Dow Jones sekalipun sedang mengalami trend bearish atau penurunan juga. Disinyalir penyebabnya adalah perang dagang yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap Cina, yang berimbas pada Negara-negara di dunia ketiga, Indonesisa salah satunya.

Mendekati bulan puasa di bulan Mei mendatang, inflasi juga mulai meningkat secara perlahan dan harga-harga barang kebutuhan pokok juga mulai naik secara bertahap.

Bagi Anda yang sudah memiliki investasi di reksadana maupun di saham, tentu memiliki kekhawatiran tersendiri, apakah nilai dari investasi yang sudah dilakukan akan merugi. Ap yang sebaiknya kita lakukan?

Berikut beberapa yang hal bisa dijadikan pertimbangan:

 

1. Pertimbangan jangka waktu

Salah satu yang menjadi faktor penentu sebuah investasi itu adalah jangka waktu. Risiko dalam berinvestasi bisa diminimalisir dengan perpanjangan waktu. Dan tentunya hasil imbal baik juga akan semakin besar dengan perpanjangan waktu.

Untuk itu, apabila tujuan keuangan yang dibuat masih lama, atau masih dalam jangka waktu lebih dari 5 tahun, maka tetaplah berinvestasi seperti biasa. Namun kalau sudah ada profit yang baik dan ternyata tujuan keuangan sudah mencapai angka yang diinginkan, maka sebaiknya dana tersebut ditarik dan diambil keuntungannya. Hal ini berlaku terutama apabila tujuan keuangan sudah akan dipergunakan 1-2 tahun mendatang.

 

2. Pertimbangan sudah profit atau belum

Salah satu yang bisa dijadikan tolok ukur pertimbangan dalam berinvestasi, apakah saat ini sudah ada profit baik yang sudah bisa dinikmati? Apabila tidak ada tujuan keuangan yang spesifik, maka apabila diinginkan, hasil investasi yang sudah mendapatkan profit boleh diambil terlebih dahulu, agar tidak terkena longsor IHSG.

Trend IHSG sekarang ini memang masih bearish. Untuk itu baiknya ambil keuntungan terlebih dahulu, sampai pada masa jenuh IHSG, baru mulai berinvestasi kembali. Namun apabila memang investasi yang dilakukan masih untuk jangka panjang, membiarkannya saja juga bukan hal yang salah.

 

3. Pertimbangan untuk melakukan averaging

Averaging atau rata-rata adalah istilah yang dipergunakan untuk menambah jumlah satuan saham atau reksadana, agar harganya menjadi rata-rata. Ada dua jenis averaging, yaitu averaging up dan averaging down.

Averaging up bisa dilakukan apabila harga saham terus naik, sehingga kita menambah jumlah saham di harga atas, namun karena pembelian awal di harga bawah, maka akan terjadi nilai rata-rata yang masih menguntungkan.

Averaging down melakukan pembelian secara bertahap ketika harga saham di bursa efek Indonesia sedang mengalami penurunan.

Keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu mendapatkan harga rata-rata, agar harga tidak terlalu jatuh (averaging down) atau agar mendapatkan harga untuk profit yang lebih baik dan lebih tinggi (averaging up).

 

4. Pertimbangan untuk melakukan hold and wait

Tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui secara pasti ke mana IHSG akan mengarah, atau saham apa yang akan naik atau turun hari ini. Walau ada grafik yang bisa terbaca, dan indicator yang bisa menbantu, namun semuanya hanya berupa prediksi. Kalau misalnya masih ada keraguan akan ke mana pasar akan bergerak, kebijakan melakukan tindakan hold and wait juga cukup bijaksana.

Artinya, tidak ada penambahan investasi, namun juga dana investasi yang ada tidak ditarik. Menunggu kadang merupakan pilihan yang terbaik, terutama untuk investasi jarak menengah dan jarak panjang.

Apapun yang Anda lakukan, pahamilah bahwa investasi memang mengandung risiko, dan risiko dapat diminimalisir dengan melakuakn diversifikasi dan perpanjangan waktu. Dan berinvestasi sekecil apapun, sesedikit apapun, tetap jauh lebih baaik daripada tidak berinvestasi sama sekali.

 

Live a beuatiful life!