Memahami Risiko Mata Uang Kripto

From The Desk Of Prita Hapsari Ghozie

Mata uang kripto seperti bitcoin memang menarik perhatian banyak masyarakat. Bagaimana tidak, dalam setahun terakhir bisa naik nilainya lebih dari 1000%. Sehingga, mulai banyak orang yang berpendapat bitcoin adalah investasi menarik kemudian mengalihkan seluruh dananya untuk membeli aset ini. Apakah bitcoin merupakan investasi? Dan apakah memang tidak ada risikonya?

Saat ini, Bank Indonesia sendiri memberikan peringatan kepada semua pihak agar tidak menjual, membeli atau memperdagangkan virtual currency atau uang virtual seperti Bitcoin. Namun memang belum ada aturan yang melarang kepemilikannya. Meski begitu, jika mommies ingin memiliki bitcoin apalagi dengan tujuan mendapatkan keuntungan, maka pahami juga faktor risikonya.

 

1. Risiko spekulasi

Kepemilikan virtual currency dalam hal ini bitcoin sangat berisiko tinggi. Selain karena tidak ada badan hukum yang melindungi, pergerakan bitcoin ini juga penuh dengan spekulasi. Tidak seperti jual-beli mata uang lain, harga bitcoin tidak dipengaruhi oleh pasar global, namun dipengaruhi oleh pasar mikro sesuai dengan teori supply and demand. Sehingga, ada kemungkinan ada yang mengatur akan hal ini, sehingga membuat bitcoin menjadi sangat rawan.

 

2. Identitas yang tersembunyi

Pemerintah mau pun organisasi tidak bisa mendeteksi siapa pemilik asli sebuah akun bitcoin. Hal ini jugalah yang membawa kekhawatiran kalau bitcoin akan disalahgunakan untuk perdagangan senjata dan aksi teroris lainnya, tanpa terlacak. Keberadaan bitcoin juga dikhawatirkan digunakan untuk praktik pencucian uang. Meski pun tidak ada pembuktiannya juga.

 

3. Diatur oleh Organisasi yang terdesentralisasi

Bitcoin itu sendiri dioperasikan oleh organisasi yang terdesentralisasi, tidak seperti uang yang dikeluarkan oleh pemerintah manapun. Namun, otoritas ini juga tidak bisa semena-mena menambah atau mengurangi jumlah bitcoin yang beredar sehingga harganya bisa naik atau turun sesukanya. Ada sistem terintegrasi dan terenkripsi tertentu sehingga jumlah bitcoin yang beredar ini juga terintegrasi dan terukur.

 

4. Tidak ada jaminan dari pemerintah

Bitcoin tidak memiliki badan hukum yang bisa melindungi nasabahnya di Indonesia, dan tidak memiliki ijin dari OJK, bahkan dilarang digunakan untuk bertransaksi. Pemerintah khawatir dengan risiko tinggi yang terkandung dalam bitcoin, sehingga banyak masyarakat yang mungkin akan kehilangan akses likuiditas jika mengalami kerugian dalam jumlah besar.

Kesimpulannya, bitcoin sebagai mata uang kripto mungkin belum dapat dijadikan alat untuk investasi, apalagi digunakan dalam rencana keuangan. Namun, jika berminat, mommies harus berdiri dengan risiko spekulasi. Pahami selalu apa yang dibeli dan hanya beli apa yang dipahami. Live a Beautiful Life!