Berbeda Pendapat dengan Pasangan

From The Desk Of Fioney Sofyan

Investasi merupakan suatu hal yang tidak semua orang memahaminya. Masih sering pasangan belum bisa memiliki kata sepakat dalam menentukan pentingnya berinvestasi. Contoh seorang istri yang memiliki pemikiran untuk hati-hati, akan memilih bentuk investasi yang ia mengerti atau konservatif. Sementara seorang suami atau laki-laki, memiliki kecenderungan untuk bersikap agresif dalam memilih instrument investasi.
Untuk pasangan yang sudah membina rumah tangga bersama, hal ini akan menjadi masalah. Untuk mengantisipasi adanya perbedaan dalam menentukan pilihan intrumen investasi, inilah yang bisa dilakukan:

1. Pahami bahwa inflasi lebih menakutkan daripada investasi

Banyak yang takut untuk mulai berinvestasi, namun lalai untuk menyadari akan risiko inflasi. Inflasi yang terjadi bisa mencapai 10-12% per tahun. Bahkan inflasi biaya pendidikan bisa mencapai 15-20% per tahun.
Sebuah simulasi sederhana, dengan inflasi sebesar 11% misalnya, dan bunga deposito sebesar 6% belum termasuk pajak. Maka apabila uang yang kita miliki sebesar Rp. 200.000.000,00 dan kita masukan ke dalam deposito selama 20 tahun, nilai nominal yang kita miliki masih terlihat sebesar Rp. 200.000.000,00 lebih karena penambahan bunga. Namun ternyata kita hanya bisa membeli barang yang saat ini nilainya Rp. 80.000.000,00. Jadi nilai rupiah kita semakin kecil karena inflasi. Bukankah hal ini lebih menakutkan daripada kita tidak berinvestasi?

 

2. Pahamilah bahwa tujuan keuangan itu penting, dan investasi membantu

mencapainya dengan lebih mudah dan lebih murah
Setiap keluarga pasti memiliki tujuan keuangan bersama. Mulai dari keinginan untuk memiliki rumah tinggal tanpa mengontrak, mampu menyekolahkan anak-anak ke jenjang pendidikan tertinggi bahkan kalau bisa di luar negeri, sampai pada persiapan pension yang nyaman, adalah sebagian kecil dari tujuan keuangan bersama.
Menabung saja tidak akan pernah mencukupi untuk bisa mewujudkan tujuan keuangan tersebut, akibat inflasi. Oleh sebab itu dengan memahami bahwa investasi berfungsi untuk mengejar inflasi dan bisa mendapatkan hasil imbal balik yang lebih baik, maka pahamilah bahwa investasi itu penting dilakukan bersama.

 

3. Bagi tugas

Apabila salah satu pasangan masih merasa keberatan dengan pilihan investasi pasangannya yang lain, maka salah satu langkah yang bisa diambil adalah dengan membagi tugas dalam berinvestasi. Misalnya investasi untuk biaya pendidikan dan/atau uang muka untuk kepemilikan rumah bisa dipercayakan pada istri, sementara untuk dana pension dan dana-dana lain bisa dipercayakan kepada suami.
Dengan demikian pasangan suami istri akan bisa memiliki tugasnya masing-masing dalam memenuhi tujuan keuangan bersama, dengan instrument investasi pilihannya sendiri.

 

4. Investasi bisa dilakukan dalam 3 segmen waktu

Investasi bisa dilakukan dengan 3 pilihan waktu, yaitu jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Jangkan pendek adalah untuk tenggat waktu 1-3 tahun mendatang. Menengah adalah antara 3-5 tahun, dan jangka panjang untuk waktu investasi di atas 5 tahun.
Apabila ada kebutuhan investasi yang melebihi 5 tahun, maka risiki bisa diperkecil dan hasil imbal balik bisa diperbesar. Perpanjangan waktu adalah salah satu cara untuk memperkecil risiko dan mendapatkan hasil yang maksimal. Oleh sebab itu pilihkah instrument investasi yang bisa dilihat bagaimana performanya selama 10 tahun ke belakang, agar bia terprediksi perkembangannya untuk 10 tahun ke depan, dan tujuan keuangan jangka panjang dapat tercapai.

 

5. Lakukan diversifikasi

Salah satu usaha yang bisa dilakukan untuk meminimalisir risiko adalah dengan melakukan diversifikasi, atau dengan kata lain “tidak menaruh telur dalam satu keranjang”. Ada beberapa instrument investasi yang bisa dimiliki sebagai bagian dari diversifikasi. Logam mulia, reksadana, property, saham, dan surat utang Negara atau obligasi adalah jenis-jenis instrument investasi yang bisa dimiliki sebagai bagian dari usaha diversifikasi.
Sebaiknya jangan melulu juga hanya memiliki logam mulia sebagai instrument investasi, tapi lakukan diversifikasi juga dengan memiliki reksadana, atau obligasi. Properti atau kepemilikan rumah mungkin membutuhkan dana yang lebih besar, namun apabila memang bisa memilih lokasi yang baik atau menjadikan property sebagai salah satu income tambahan, maka property juga merupakan instrument investasi yang baik.
Yang terpenting, tetap melakukan investasi, sekecil apapun, baru boleh menghabiskan sisa uang yang ada untuk pengeluaran rutin harian.

 

6. Konsultasikan kepada yang ahli

Perencanaan keuangan memang bisa dilakukan secara mandiri. Namun untuk dapat menemukan ketenangan, sebaiknya pasangan yang memiliki perbedaan pendapat mengenai investasi melakukan konsultasi kepada perencanaan keuangan yang professional.
Hal ini dilakukan untuk menengahi perselisihan dan menambah informasi yang didapat dari perencana keuangan, tentunya akan lebih netral serta bisa menyesuaikan dengan kebutuhan. Perencana keuangan tentunya sudah memiliki ilmu pengetahuan yang kompeten dalam membantu menentukan instrument investasi apa dan yang mana yang cocok, serta sesuai dengan karakter suami istri, yang walaupun berbeda namun tentunya memiliki tujuan keuangan yang sama.

 

Live a beuatiful life!