Risiko Investasi dan Rencana Keuangan

From The Desk Of Prita Hapsari Ghozie

Rencana keuangan merupakan panduan bagi setiap individu yang dapat digunakan untuk mencapai hidup yang lebih sejahtera melalui pengelolaan sumber daya yang dimiliki. Salah satu faktor penting dalam perencanaan keuangan adalah strategi Anda dalam menginvestasikan penghasilan dan aset yang telah dimiliki.

Dari berbagai definisi investasi yang dapat ditemukan dari berbagai buku teks tentang manajemen investasi, saya paling menyukai definisi bahwa investasi merupakan kegiatan menunda konsumsi hari ini dengan tujuan untuk mengharapkan kenaikan modal atau memperoleh penghasilan di masa mendatang. Artinya, investasi merupakan sarana untuk mencapai tujuan keuangan di masa depan, bukan investasi yang menjadi tujuannya.

Aset investasi ibarat sebuah kendaraan yang akan membantu Anda untuk mencapai tujuan keuangan. Setiap tujuan keuangan seperti dana pendidikan anak, dana pembelian rumah, atau pun dana berlibur memiliki jangka waktu yang berbeda-beda. Sehingga, semakin pendek jangka waktu menuju tujuan akan lebih baik menggunakan kendaraan berkecepatan cukup dan berisiko rendah. Sedangkan, jika tujuan Anda cukup jauh, agar lebih cepat sampai maka kendaraan yang digunakan sebaiknya lebih cepat meski berisiko lebih tinggi. Sehingga, dapat dipahami bahwa setiap kendaraan dalam rencana keuangan yaitu aset investasi pasti memiliki risiko yang berbeda-beda.

Berbicara mengenai investasi, maka harus juga diperhatikan risiko yang menyertainya. Risiko adalah kemungkinan mendapatkan hasil yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Dalam hal berinvestasi, ada beberapa risiko umum yang sebaiknya dikenal oleh setiap orang.

 

Pertama, risiko likuiditas. Seberapa cepat sebuah aset investasi dapat menjadi uang tunai menandakan tingkat likuiditasnya. Semakin cepat, maka risiko likuiditas semakin rendah. Secara umum, berinvestasi di produk keuangan seperti deposito atau reksa dana memiliki risiko likuiditas yang rendah.

 

Kedua, risiko volatilitas atau perubahan harga yang drastis dalam kurun waktu singkat. Hal ini kerap ditemukan apabila Anda berinvestasi di saham atau produk yang berbasis saham. Jangan heran apabila harga saham dapat bergerak naik dan turun dalam waktu singkat bahkan hitungan menit saja.

 

Ketiga, risiko suku bunga. Pertengahan bulan Januari 2016, Bank Indonesia menurunkan tingkat suku bunga acuan menjadi 7.25% dari sebelumnya 7.5%. Apa artinya bagi rencana keuangan Anda? Dengan turunnya suku bunga acuan, maka investasi di deposito kemungkinan menjadi kurang menarik karena suku bunga akan turun. Maka, ada baiknya untuk mengalihkan sebagian dana investasi ke aset investasi lain bilamana tujuan keuangan untuk jangka panjang.

 

Keempat, risiko inflasi. Seperti dijelaskan diawal, tujuan berinvestasi adalah agar dapat memiliki dana di masa depan untuk konsumsi di masa depan. Namun, apa jadinya apabila kenaikan aset tidak seimbang dengan kenaikan tingkat inflasi? Kemungkinan besar standar hidup Anda dapat menurun. Oleh sebab itu, untuk kebutuhan tujuan keuangan diatas 5 tahun sebaiknya menggunakan aset investasi yang imbal hasilnya lebih tinggi meski pun risikonya juga akan lebih tinggi.

 

Kelima, risiko gagal bayar. Jenis risiko ini kerap disepelekan oleh calon investor. Padahal, Anda sebaiknya melakukan evaluasi singkat untuk mengetahui kemungkinan pengembalian modal awal investasi di akhir periode. Berinvestasi di sebuah bisnis ada umumnya memiliki risiko gagal bayar yang lebih tinggi daripada berinvestasi di aset seperti emas atau properti.

 

Setelah mengenal lima risiko umum dalam investasi, Anda juga sebaiknya menerapkan prinsip kehati-hatian dengan penawaran investasi yang menjanjikan imbal hasil atau keuntungan yang tinggi serta cenderung kurang masuk akal. Setiap penambahan potensi keuntungan pasti berbanding lurus dengan penambahan risiko. Ada kemungkinan Anda akan masuk ke wilayah pengambilan risiko yang jauh lebih tinggi dari kemampuan Anda untuk mentoleransi risiko investasi. Pahami bagaimana aset investasi tersebut dapat memberikan potensi keuntungan. Ingatlah, if it looks too good to be true, it probably is!

 

Toleransi risiko setiap investor pada umumnya dapat terbagi menjadi tiga kategori yaitu konservatif, moderat, dan agresif. Jika Anda tidak senang dan merasa was-was setiap melihat berita naik-turun harga saham, maka lakukan pendekatan yang lebih konservatif dalam berinvestasi. Jika Anda masih cukup mudah dan mampu mentoleransi risiko lebih tinggi, maka tidak ada salahnya untuk membagi uang kedalam beberapa aset investasi. Jika Anda punya banyak modal investasi, tidak ada salahnya juga untuk lebih agresif dalam berinvestasi, selama sesuai dengan rencana keuangan Anda.

 

Setiap orang mungkin punya rencana keuangan yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, keputusan investasi sebaiknya didasarkan atas rencana keuangan masing-masing, bukan sekedar ikut-ikutan teman. Berdiskusi dengan seorang perencana keuangan dapat juga membantu Anda dalam proses penentuan kemampuan mentoleransi risiko. Bagaimanapun juga, investasi adalah kendaraan Anda untuk mencapai tujuan keuangan agar hidup menjadi lebih sejahtera. Itu sebabnya, pastikan Anda memilih kendaraan yang sesuai. Live a beautiful life!