Proteksi Keuangan Keluarga yang Ideal

From The Desk Of Prita Hapsari Ghozie

Perencanaan keuangan memiliki fungsi penting dalam rumah tangga. Bayangkan saja, apabila tidak ada rencana, maka penghasilan yang diperoleh hari ini bisa jadi hanya digunakan untuk hidup selama sebulan. Sedangkan, hidup di masa depan mungkin tidak terpikirkan. Bagi Anda yang sudah berencana pun, pasti menyadari bahwa sebaik-baiknya perencanaan, masih saja ada kemungkinan buruk yang terjadi. Oleh sebab itu, perencanaan keuangan tidak hanya berbicara tentang menabung dan berinvestasi, tetapi juga mengelola risiko kehidupan dalam bentuk proteksi.

 

Proteksi atas risiko kerugian keuangan akibat terjadinya suatu keadaan yang tidak diinginkan merupakan fungsi utama sebuah polis asuransi. Dalam perencanaan keuangan, polis asuransi menempati fungsi sebagai strategi untuk manajemen proteksi keuangan pribadi. Secara umum, proteksi yang sebaiknya dimiliki oleh setiap orang adalah proteksi atas potensi kerugian keuangan akibat sakit, proteksi atas potensi kerugian keuangan atas kehilangan penghasilan akibat meninggal dunia, serta proteksi atas kerugian keuangan akibat kecelakaan. Tiga risiko diatas secara berurutan dapat dilindungi dengan polis asuransi kesehatan, polis asuransi jiwa, dan polis asuransi kecelakaan diri.

 

Setelah mengetahui pentingnya memiliki proteksi, maka berikutnya adalah menentukan berapa jumlah proteksi yang sebaiknya dimiliki. Dalam hal ini, saya akan fokuskan pembahasan terhadap polis asuransi jiwa, yang menurut saya paling banyak menjadi pertanyaan di kalangan masyarakat. Ada beberapa hal yang sebaiknya dipahami sebelum seseorang membeli polis asuransi jiwa.

 

Pertama, memahami kegunaan sebuah asuransi jiwa. Polis asuransi jiwa memberikan penggantian tunai bagi ahli waris apabila terjadi risiko meninggal dunia bagi tertanggung. Pahami bahwa manfaat asuransi jiwa akan dinikmati oleh orang lain, bukan Anda selaku si tertanggung. Itu sebabnya, tidak semua orang membutuhkan asuransi jiwa. Misalkan, anak kecil yang belum berpenghasilan dan tidak memiliki nilai ekonomis bagi suatu keluarga, belum tentu membutuhkan asuransi jiwa. Akan lebih baik apabila fokus pembelian asuransi jiwa bagi pemberi nafkah dengan meningkatkan jumlah uang pertanggungan hingga nilai idealnya.

 

Kedua, jumlah uang pertanggungan yang dibutuhkan. Uang pertanggungan adalah jumlah manfaat tunai yang tertera di polis asuransi jiwa yang akan dibayarkan apabila tertanggung meninggal dunia. Perusahaan asuransi jiwa harus memberikan jaminan atas nilai uang pertanggungan, sehingga apabila terjadi klaim maka nilainya tidak boleh berkurang.

 

Nilai uang pertanggungan ideal untuk setiap orang bisa berbeda-beda. Faktor penentunya termasuk besaran biaya hidup rutin anggota keluarga, jumlah aset saat ini, jumlah utang saat ini, dan potensi pengeluaran besar keluarga seperti pendidikan dan lainnya. Lakukan evaluasi terhadap kebutuhan nilai pertanggungan setiap tahun atau saat terjadi perubahan besar dalam keuangan keluarga seperti menikah, kelahiran anak, kenaikan penghasilan, dan lainnya.

 

Dalam banyak kasus, ada pemberi kerja yang memberikan manfaat asuransi jiwa bagi karyawannya. Jenis asuransi jiwa yang umum digunakan adalah asuransi jiwa berjangka, biasanya berdurasi satu tahun, dan diperpanjang selama karyawan masih bekerja di kantor tersebut. Nilai pertanggungan bagi setiap karyawan dapat berbeda-beda, umumnya ditentukan oleh masa bekerja serta jumlah penghasilan tahunan, bukan dari kebutuhan dari setiap keluarga. Perlindungan pun berakhir saat karyawan berhenti bekerja dari kantor tersebut. Itu sebabnya, meski telah memiliki asuransi jiwa dari pemberi kerja, apabila nilai pertanggungannya belum ideal maka boleh saja untuk menambah polis asuransi jiwa secara pribadi.

 

Ketiga, tingkat kemurnian polis asuransi jiwa. Saat ini, semakin banyak perusahaan asuransi yang menawarkan asuransi jiwa dengan balutan tambahan produk lain seperti asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi penyakit kritis, serta investasi. Pahami bahwa semakin banyak fitur yang ditambahkan, maka akan semakin besar pula biaya asuransi yang harus dibayarkan. Biaya asuransi ini akan terbayarkan dari premi yang disetor selama jangka waktu tertentu. Sehingga, apabila jumlah setoran premi belum mencukupi untuk pembayaran biaya asuransi, ada kemungkinan pemegang polis asuransi jiwa akan diharuskan untuk menambah setoran premi atau dikenal juga dengan top up.

 

Keempat, pisahkan nilai pertanggungan dengan porsi investasi dalam polis asuransi jiwa. Terkadang, banyak masyarakat yang masih beranggapan bahwa seluruh nilai yang ditawarkan dalam sebuah polis asuransi jiwa sifatnya dijamin. Hal ini dapat menimbulkan persepsi yang kurang tepat.

 

Nilai pertanggungan selama masa kontrak harus dijamin oleh perusahaan asuransi jiwa. Maka, jika selepas masa kontrak kemudian tidak terjadi klaim, uang setoran premi mungkin tidak dapat diminta kembali. Sedangkan, porsi investasi dalam polis asuransi jiwa belum tentu dijamin nilainya. Ada jenis asuransi jiwa tertentu yang menjamin nilai tabungan yang sudah terbentuk alias nilai tunai. Namun, jika bentuknya adalah investasi seperti unit-link, maka nilai aset akan mengikuti perkembangan pasar keuangan. Semakin besar potensi keuntungan, maka akan semakin tinggi risikonya.

 

Keputusan pembelian polis asuransi jiwa haruslah disesuaikan dengan kondisi kehidupan dan keuangan masing-masing. Pengeluaran bulanan idealnya hanya maksimal 5% yang digunakan untuk pembayaran premi asuransi. Pahami dengan baik kebutuhan proteksi keluarga agar tidak salah dalam melakukan perencanaan. Live a Beautiful Life!