Keuangan Saat Pasangan Berhenti Kerja

From The Desk of Prita Hapsari Ghozie

 

Siklus kehidupan terkadang membawa seseorang kedalam situasi yang berbeda. Seorang perempuan yang berkeluarga karena berbagai alasan terkadang memilih untuk pensiun dini dan menjadi seorang stay at home mother. Selain dampak tertentu, perubahan secara situasi keuangan pasti akan terjadi. Stay at home mother sering diasosiasikan sebagai ibu rumah tangga yang tidak berpenghasilan secara aktif. Hidup dengan satu sumber penghasilan pasti akan berpengaruh pada pola pengeluaran, belanja proteksi keuangan, posisi kemampuan membayar utang dan investasi untuk masa depan.

Selain situasi tidak berpenghasilan aktif secara sukarela, perubahan siklus hidup juga akan berdampak secara keuangan apabila terjadi kematian pada tulang punggung keluarga, perceraian, atau pun hal lainnya. Setidaknya, ada 5 hal yang sebaiknya dilakukan untuk sebuah rumah tangga yang beralih menjadi satu sumber penghasilan.

 

 

 

1. Melakukan revisi atas rencana pengeluaran bulanan.

Sudah bukan rahasia umum bahwa mengatur pengeluaran untuk rumah tangga dengan satu sumber penghasilan pasti lebih sulit dibandingkan dengan rumah tangga dengan dua sumber penghasilan. Anda sebaiknya melakukan evaluasi dan membuat pengelompokkan pengeluaran berdasarkan jenis pengeluaran wajib dan pengeluaran tidak wajib. Pembayaran cicilan utang juga sebaiknya disusun berdasarkan urutan pembayaran dengan tingkat suku bunga pinjaman yang tertinggi. Secara umum, apabila tidak terjadi kenaikan penghasilan secara signifikan, sebuah rumah tangga harus melakukan penyesuaian pengeluaran hingga 30% dari pengeluaran sebelumnya. Misalnya, apabila pengeluaran rutin bulanan sebuah rumah tangga berjumlah 30 juta rupiah, maka apabila satu pasangan tidak lagi bekerja, maka pengeluaran sebaiknya diturunkan hingga 21 juta rupiah. Transisi ini sebaiknya dicoba setidaknya 6 bulan sebelum salah satu pasangan memutuskan berhenti bekerja. Meski pun selama masa tersebut masih ada dua sumber penghasilan, tetapi dana sebaiknya dialokasikan untuk pos lain seperti menambah saldo dana darurat keluarga.Memiliki proteksi kesehatan. Pada masa sekarang, biaya kesehatan terus meningkat apalagi jika sebab perempuan tidak bekerja adalah karena melahirkan anak. Bertambahnya jumlah anggota keluarga secara khusus akan menambah jumlah pengeluaran bulanan. Proteksi kesehatan paling utama sebaiknya ditutup dengan pembelian program BPJS Kesehatan dari pemerintah. Berhati-hati dalam membeli asuransi kesehatan karena jika premi tidak dapat dibayarkan, ada risiko perlindungan asuransi tidak dapat berjalan.

 

2. Tetap berinvestasi untuk masa pensiun.

Salah seorang rekan saya pernah berkata,”Untuk apa investasi demi hari tua. Belum tentu sulit juga di masa tua nanti!”. Masa tua memang pasti bervariasi antar individu. Namun, apa jadinya jika seseorang berumur panjang tetapi tidak mempersiapkan dana untuk biaya hidupnya kelak. Saat penghasilan berkurang, cara termudah bagi setiap rumah tangga adalah memangkas jumlah dana yang diinvestasikan. Meski pun demikian, ide ini sangat buruk bagi keuangan Anda kelak. Jangan menurunkan jumlah investasi hingga dibawah 5% dari penghasilan bulanan. Ide lain adalah menginvestasikan dana pesangon yang diperoleh perempuan saat berhenti bekerja. Jika usia Anda masih dibawah 50 tahun, maka dana pesangon tersebut masih dapat optimal apabila diinvestasikan kedalam produk berbasis saham.

 

3. Evaluasi pinjaman.

Untuk rumah tangga yang sedang mengambil fasilitas Kredit Perumahan, maka ada baiknya untuk mengevaluasi jumlah pembayaran cicilan per bulan. Dengan adanya pengurangan penghasilan, maka jumlah kemampuan pembayaran cicilan juga akan berkurang. Untuk mengatur ulang pengelolaan utang, maka refinancing dapat dipertimbangkan. Misalnya, saat ini, Anda mengambil fasilitas KPR dengan sisa tenor 7 tahun dalam tingkat suku bunga 13% per tahun. Apabila di pasaran ada penawaran fasilitas KPR dengan tingkat suku bunga 8% per tahun, maka dapat dipertimbangkan untuk mengalihkan fasilitas pinjaman ke produk yang lebih baru. Biaya penalti dan lainnya akan juga menjadi pertimbangan saat melakukan proses refinancing.

 

4. Memproteksi penghasilan tulang punggung keluarga.

Fakta bahwa seluruh anggota keluarga bergantung pada satu sumber penghasilan menjadi momen pengingat kebutuhan asuransi jiwa. Proteksi keuangan harus dimiliki oleh pasangan yang masih bekerja, dengan ahli waris yaitu pasangan lain beserta anak bilamana ada. Selain asuransi jiwa murni, Anda juga mungkin perlu mengevaluasi kebutuhan asuransi kecelakaan kerja apabila jenis pekerjaan yang dilakukan tergolong berisiko tinggi.

Kualitas hidup tentu saja tidak ditentukan dari berapa penghasilan yang dibawa pulang. Namun, jika rumah tangga kekurangan dana untuk biaya hidup, tentu saja taraf kesejahteraan menjadi sulit untuk dicapai. Apabila ternyata hidup hanya dengan satu sumber penghasilan tidak berhasil untuk rumah tangga Anda, maka opsi untuk bekerja secara freelance atau pun paruh waktu sebaiknya dipertimbangkan.

 

Live a Beautiful Life!