7 Tanda Keuangan Sehat

From The Desk of Prita Hapsari Ghozie

Investasi adalah strategi penting dalam perencanaan keuangan rumah tangga untuk mencapai berbagai tujuan keuangan. Namun, tanpa adanya kapasitas berinvestasi atau investment capability, maka seseorang umumnya tidak punya dana lebih untuk diinvestasikan. Sebelum masuk ke tahap menjadi investor, seseorang memang sebaiknya memiliki keuangan yang sehat. Berikut ini adalah 7 tanda-tanda keuangan yang sehat.

 

1. Jumlah cicilan kredit perumahan atau apartemen.

Secara umum, batasan maksimal yang masih ideal untuk membayar cicilan pinjaman peruamhan adalah 25% dari penghasilan yang diterima. Alokasi ini dihitung terhadap seluruh saldo pinjaman perumahan yang dimiliki. Cara menghitungnya adalah cicilan KPR atau KPA bulanan yang dibayarkan harus dijumlahkan, lalu dibagi dengan jumlah penghasilan sebulan. Sebagai contoh, apabila penghasilan seseorang Rp30 juta per bulan, maka kemampuan ideal untuk membayar cicilan pinjaman menjadi maksimal Rp7.5 juta per bulan. Waspada terhadap kondisi keuangan apabila jumlah cicilan pinjaman perumahan yang dibayarkan diatas 25% dari penghasilan.

 

2. Saldo utang lain seperti utang kartu kredit.

Saran terbaik tentu saja tidak punya utang kartu kredit setiap bulannya dengan cara membayar lunas tagihan saat jatuh tempo. Namun, bila masih ada cicilan untuk membayar kartu kredit, jumlah ideal sebaiknya tidak melebihi 10% dari penghasilan bulanan.

 

3 .Dana darurat di rekening yang terpisah dengan rekening penerima gaji.

Meski kondisi mau pun status rumah tangga bisa berbeda-beda, dana darurat tetap harus dimiliki. Secara umum, jumlahnya minimal dana darurat yang sebaiknya dimiliki oleh setiap rumah tangga sebesar tiga kali dari pengeluaran rutin bulanan. Misalnya pengeluaran rutin sebuah rumah tangga diluar komitmen menabung adalah Rp20 juta, maka saldo dana darurat yang wajib ada adalah Rp60 juta. Namun, kondisi rumah tangga juga ikut menentukan besaran dana darurat yang sebaiknya disiapkan. Faktor lain yang mempengaruhi adalah jumlah tanggungan, banyaknya aset yang digunakan seperti rumah dan kendaraan, serta kondisi kesehatan anggota keluarga.

 

4. Memiliki proteksi atas jiwa, kesehatan, dan aset pribadi.

Asuransi adalah produk keuangan yang bisa memberikan fungsi proteksi terhadap kondisi keuangan rumah tangga. Seluruh anggota keluarga sebaiknya memiliki asuransi kesehatan, karena risiko sakit dapat menimpa setiap orang yang akan berdampak pada kondisi keuangan rumah tangga. Jika seseorang punya tanggungan seperti pasangan atau pun anak, maka asuransi jiwa murni wajib dimiliki oleh yang memiliki tanggungan saja. Apabila ada aset lain seperti rumah atau mobil, maka aset juga sebaiknya dilindungi dengan produk proteksi.

 

5. Memiliki saldo dana pensiun yang memadai.

Mempersiapkan dana hari tua adalah tanggung jawab setiap orang. Investasi untuk mempersiapkan dana pensiun, bukan sekedar menabung saja sebaiknya dilakukan. Seseorang yang saat ini berusia 30 tahun dan berencana untuk pensiun di usia 55 tahun, artinya masih punya waktu sekitar 25 tahun untuk mengumpulkan dana pensiun. Apabila dia menabung di tabungan dengan suku bunga 3% per tahun, maka saldo dana pensiun yang akan terbentuk secara matematis adalah Rp223 juta. Sedangkan, jika dia berinvestasi di reksa dana saham dengan potensi imbal hasil rata-rata 15% per tahun, maka saldo dana pensiun yang akan terbentuk secara matematis adalah Rp1.6 Milyar. Selisih yang berbeda sekali, bukan?

 

6. Aset investasi yang terdiversifikasi.

Berapa banyak aset investasi yang dimiliki rumah tangga? Keuangan yang sehat sebaiknya memiliki aset yang tersebar kedalam beberapa jenis kelas aset investasi. Misalnya, jika seseorang yang berprofil moderat memiliki aset investasi sejumlah Rp100 juta, maka setidaknya dana sebanyak Rp. 25 juta ditempatkan di deposito dan Rp25 juta di tempatkan di reksa dana campuran.

Keenam ciri diatas secara bersamaan akan mengindikasikan sebuah kondisi keuangan yang sehat. Artinya, punya dana darurat tanpa punya dana pensiun menunjukkan keuangan belum 100% sehat, meski pun sakitnya juga tidak parah. Seseorang dapat menemukan keenam ciri tersebut apabila rajin melakukan evaluasi kesehatan keuangan atau yang dikenal dengan istilah financial check up.

Jika seseorang masih enggan juga untuk melakukan evaluasi yang menyeluruh, coba tanyakan hal ini pada diri sendiri. Sudah berapa lama bekerja dan mendapatkan penghasilan? Berapa jumlah penghasilan yang telah diterima sejak pertama kali bekerja? Maka, kalikan angka tersebut dengan 10%, untuk mendapatkan angka jumlah aset minimum yang seharusnya sudah dimiliki. Misalnya, seseorang telah bekerja selama 10 tahun dengan jumlah total penghasilan sebesar Rp5 Milyar. Maka, seharusnya saat ini telah memiliki aset investasi sebesar Rp500 juta. Jika saldo aktual lebih kecil dari Rp500 juta atau bahkan tidak ada, maka keuangannya terancam tidak sehat.

 

7. Rencana untuk hidup yang sejahtera

Untuk mencapai tujuan yang diinginkan, maka Anda sebaiknya punya rencana keuangan. Untuk memulai sebuah rencana keuangan, selalu lakukan evaluasi atau check up terlebih dahulu. Punya rencana keuangan tidak menjamin Anda 100% akan kaya raya. Akan tetapi, Anda akan lebih tenang karena tahu apakah dana investasi sudah cukup untuk pendidikan, atau mengetahui bila saat ini baru bisa mendanai pensiun hingga usia 60 tahun. Saya percaya bahwa Anda tidak perlu jadi seorang ahli keuangan, tapi Anda harus paham bagaimana mengelola keuangan keluarga sendiri.

Live a Beautiful Life!