7 Kesalahan Utama Dalam Membuat Surat Wasiat untuk Legacy Plan yang Sudah Direncanakan

From the desk of Prita Hapsari Ghozie


Kalau kita sudah memiliki anak, maka tentunya kita ingin ada harta atau aset yang bisa diwariskan kepada mereka. Namun seringkali walaupun kita sudah menyadarinya, masih ada 7 kesalahan utama dalam membuat surat wasiat untuk legacy plan, yang sudah direncanakan.

Legacy plan disini bukan melulunya tentang harta benda yang bisa kita wariskan, namun juga bisnis yang ingin kita turunkan pada anak cucu kita, sehingga kelangsungan hidup mereka dan bisnis keluarga tetap bisa dipertahankan dan diteruskan.

Jadi apakah 7 kesalahan utama dalam membuat surat wasiat untuk legacy plan yang sudah direncanakan?

  1. Tidak membuat surat wasiat

Kesalahan seseorang yang paling besar dalam hal warisan adalah tidak membuat surat wasiat. Surat wasiat berfungsi untuk mencegah agar orang yang tidak berkepentinganlah yang justru mendapatkan harta warisan kita, dan harta waris yang kita miliki juga bisa diberikan kepada orang yang tepat, sesuai dengan keinginan kita.

Akan selalu ada orang yang merasa lebih berhak atas harta warisan kita. Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk membatasi.

  1. Membuat surat wasiat tanpa pilihan hukum waris

Ada 3 pilihan hukum waris yang berlaku di Indonesia, yaitu hukum Waris Adat, hukum Waris Islam dan hukum Waris Perdata. Setiap daerah memiliki hukum yang berbeda-beda sesuai dengan sistem kekerabatan yang mereka anut. Untuk itu penting sekali bagi kita untuk menentukan sejak awal hukum waris mana yang akan kita pergunakan, untuk menghindari kerugian yang mungkin malah diterima oleh ahli waris, karena dasar hukum yang kita gunakan bisa berbeda satu sama lain.

Ini penting karena apabila dalam keluarga tersebut terdapat pernikahan campur, misalnya beda agama, atau beda budaya, maka hukum yang dipergunakan adalah hukum yang tertulis atau ditentukan dalam surat wasiat, bukan berdasarkan hukum yang ditentukan secara sepihak oleh ahli waris, namun ditentukan oleh pemberi waris.

  1. Tidak menyesuaikan klausula konsep dasar surat wasiat

Klausul ini berlaku bagi warga negara Indonesia yang memiliki harta di luar negeri. Oleh sebab itu penting untuk menyertakan jurisdiksi atau secara spesifik menyebutkan harta yang ada di Indonesia dan untuk siapa saja, demi mencegah terjadinya pembatalan hukum apabila kita memiliki harta di luar negeri dan bisa dipatahkan oleh hokum yang berlaku di negara yang bersangkutan.

Penting bagi kita untuk secara spesifik menyertakan tentang harta mana saja yang kita miliki dan ingin kita wariskan. Kalau sampai ada perhitungan harta yang terlupa dan tidak jelas siapa penerima warisnya, maka hal ini akan menjadi kendala tambahan yang bisa mengundang perseteruan antar ahli waris.

Dan untuk kepemilikan harta di luar negeri, sebaiknya pergunakan hukum dan wasiat sesuai dengan aturan di negara yang bersangkutan, namun tidak lupa menyertakan informasi tersebut di wasiat yang kita miliki di Indonesia.

  1. Tidak menunjuk pelaksana surat wasiat yang tepat

Pelaksana waris sebaiknya seseorang yang tidak memiliki hak atau bagian terhadap surat wasiat yang kita miliki. Namun sebaiknya memang seseorang yang kita percaya, atau serahkan kepada notaris. Pelaksana waris di sini bertugas sebagai seseorang yang tahu akan keberadaan surat wasiat yang kita buat sehingga bisa memberitahukannya kepada keluarga dan membantu terjadinya proses pelaksanaan dengan baik.

  1. Tidak menyimpan surat wasiat dengan baik

Sebaiknya surat wasiat disimpan di tempat yang tidak diketahui oleh orang banyak, atau disimpan pada notaris yang sudah ditunjuk. Keberadaan surat wasiat bisa memicu banyak hal yang tidak menyenangkan, oleh sebab itu sebaiknya menyimpan surat wasiat ini tidak di sembarang tempat, atau hanya menyimpan copynya sementara yang asli ada di notaris.

  1. Tidak mengatur perwalian anak di bawah umur

Seorang anak akan dianggap cakap secara hukum apabila Ia berusia 21 tahun, bukan 17 tahun. Oleh sebab itu, jangan pernah lupa untuk menunjuk seseorang wali yang bisa dijadikan wakil untuk perwalian anak di bawah umur, dan beri klausul tambahan mengenai pengaturan keuangan agar anak tetap bisa menerima apa yang menjadi haknya.

Hal ini juga untuk mencegah terjadinya perseteruan yang lebih lanjut dan bisa panjang sampai ke meja hijau.

  1. Tidak ada kuasa kesehatan dan keuangan

Hal ini untuk mengantisipasi apabila kita sakit, dan tidak memiliki kemampuan untuk melakukan transaksi finansial, maka kita akan membutuhkan seseorang untuk membantu kita dalam mengatur semua ini.

 

Untuk informasi lebih lanjut tentang Legacy planning, Anda bisa menghubungi Zap Finance

Epiwalk Office Suites 6th Floor. Unit B635-636

Jl. H.R.Rasuna Said, Rasuna Epicentrum Jakarta

Telp. (021) 2991-2258 | Fax.  (021) 2991-2257

Whatsapp: 0812 8855 9968

Email: info@zapfinance.co.id

Website: http://www.zapfinance.co.id

Twitter: @zapfinance