Hapus Utang Konsumtif dengan Bonus

From The Desk of Ratih Nurmalasari

 

IMG_0918

Tawaran membeli barang dengan mencicil memang selalu terasa menggiurkan, ya? Bagaimana tidak, kita dapat membawa pulang barang tersebut sekarang dan membayarnya di kemudian hari. Seperti tidak ada beban, bukan? Hehehe… Namun sayangnya, bank tidak pernah lupa untuk mengirimkan surat cinta, tanda tagihan harus segera dibayar.

 

Satu atau dua tagihan mungkin tidak terlalu memberatkan arus kas bulanan, tetapi bagaimana jika hal ini terus-menerus menjadi kebiasaan dan akhirnya tagihan menumpuk? Wah… tentu kepala bisa pusing! Lantas, jika sekarang utang sudah terlanjur menggunung, adakah cara untuk mengurangi bebannya atau segera melunasinya?

 

Masih ingat kan dengan artikel “Bijak Mengelola Bonus”? Yup! Bonus bisa digunakan untuk menggunting utang konsumtif. Caranya? Coba ikuti langkah berikut!

  1. Buat Daftar Utang Konsumtif

Tulis seluruh utang konsumtif yang dimiliki saat ini yang mencakup sisa utang yang masih harus dibayar, tingkat bunga masing-masing utang dan kepada siapa kita berutang.

 

2. Hitung Jumlah Utang Konsumtif

Jumlahkan sisa utang yang masih harus dibayar. Untuk memudahkan menghitung sisa utang, cukup kalikan saja besaran cicilan per bulan dengan sisa bulan masa pembayaran.

 

3. Prioritas dalam Melunasi Utang Konsumtif

Jika hanya sebagian bonus yang akan digunakan untuk mengurangi utang konsumtif dan ternyata tidak cukup untuk menutup semua utang, maka buat prioritas. Lakukan pelunasan dari utang berbunga tinggi hingga utang berbunga rendah.

 

4. Kurangi Utang Konsumtif Hingga Sisa Cicilan Seluruh Utang dalam Batas 30%

Masih ingat dengan batas maksimal cicilan utang bulanan sebesar 30% dari penghasilan? Usahakan untuk melunasi utang konsumtif hingga pembayaran sisa cicilan utang (apabila masih ada) berada dalam kisaran 30% dari penghasilan bulanan.

 

Sambil memperbaiki kondisi keuangan dengan menghapus utang konsumtif saat ini, kita juga harus mulai mengubah kebiasaan membeli barang-barang konsumsi. Ajaran orang tua kita untuk menabung sebelum membeli barang memang masih tepat untuk dilakukan.

 

Tabung dulu, beli kemudian! Bukan beli dulu, cicil kemudian!

Tidak mau kan, liburan hanya tiga hari tetapi kita harus pusing hingga 90 hari untuk membayar cicilannya? Liburannya sudah lewat dan mungkin sudah lupa, tapi tagihannya masih terus datang. Hehehe…

 

Kebiasaan ini juga memaksa kita untuk hidup dalam kapasitas keuangan kita. Jika saat ini memang belum tersedia uangnya, berarti kita memang belum mampu. Jangan memaksakan diri hanya untuk memenuhi tuntutan sosial semata. Ingat bahwa kehidupan kita, termasuk urusan keuangan, kita sendirilah yang paling bertanggung jawab dan tidak akan ada orang lain yang mau menanggung jika keuangan kita bermasalah.

 

Nah, mumpung masih awal tahun, mari berlatih untuk membiasakan diri memiliki kebiasaan keuangan yang baik. Mumpung ada bonus, mari kita perbaiki kesalahan keuangan kita di masa lalu! Live life to the fullest!

 

– Ratih Nurmalasari, CFP –