Siapkah Pensiun Dini? Bagian 2

From The Desk of Prita Ghozie

 

Prita Ghozie - Articles

Pada tulisan bagian 1 yang lalu, saya telah memberikan beberapa langkah persiapan secara finansial menuju masa pensiun dini. Nah, masih menyambung pembahasan minggu lalu, tulisan saya kali ini akan mengajak Anda untuk dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

 

Sebelum memasuki masa pra-pensiun, pada umumnya Anda sudah mendapatkan gambaran jumlah angka yang hampir pasti didapat saat pensiun. Jika Anda seorang karyawan, umumnya Anda akan mendapatkan paket pensiun yang terdiri dari saldo dana pensiun – apabila ada – , saldo Jaminan Hari Tua BPJS ketenagakerjaan (dahulu adalah JHT Jamsostek), uang jasa yang besaran bervariasi tergantung aturan perusahaan, dan sejumlah uang “emas”. Nah, paket tersebut kadang dikenal dengan istilah golden handshake. Sehingga wajar, jumlah keseluruhan paket bisa melebihi 6 bulan gaji seseorang selama bekerja.

 

Jumlah dana berapa pun pastinya terasa besar apabila diterima dalam satu waktu. Namun, pertanyaannya apakah dana tersebut akan cukup untuk menyokong hidup Anda di masa pensiun dengan gaya hidup yang dimiliki saat ini. Pahami bahwa misteri terbesar dalam persiapan pensiun adalah Anda dan saya tidak akan tahu secara pasti kapan kita akan berhenti pensiun alias meninggal dunia. Dengan demikian, Anda terpaksa melakukan estimasi harapan hidup sejak memulai pensiun dini usia 45 tahun misalnya hingga usia asumsi mortalita.

 

Misalnya, Andi adalah karyawan berusia 42 tahun. Dia berencana mengambil program pensiun dini dan akan mendapatkan paket pensiun sejumlah Rp. 1 milyar. Ditambah aset likuid dalam bentuk reksa dana saham yang nantinya berpotensi menjadi Rp. 500 juta di usia 45 tahun, maka jumlah aset yang dapat dikelola untuk masa pensiun adalah Rp. 1.5 milyar. Berdasarkan ilustrasi kalkulator finansial persiapan pensiun ZAPfinance, maka jika Andi memiliki kebutuhan biaya hidup Rp. 15 juta perbulan dengan asumsi tingkat inflasi rata-rata 10% per tahun dan potensi imbal hasil investasi di masa pensiun rata-rata 10% per tahun, maka aset pensiun Anda akan habis di usia 55 tahun. Wah, gawat!

 

Setidaknya ada dua alternatif yang masih dapat dipilih oleh Andi apabila gaya hidup ingin dipertahankan. Pertama, Andi harus bekerja lagi baik sebagai profesional atau sebagai tenaga lepas. Jika Andi berhasil mendapatkan pekerjaan baru di usia 45 tahun, maka solusi telah diperoleh. Namun, apabila bergantung pada tenaga lepas, Andi harus memperbesar porsi dana darurat keluarga untuk berjaga-jaga saat tidak memperoleh penghasilan. Kedua, Andi dapat melakukan pengelolaan aset agar akumulasinya dapat bertambah dan berikutnya dibelikan aset yang dapat memberi penghasilan pasif.

 

Apabila Anda juga berada pada tahap masa persiapan pensiun seperti Andi, saya sarankan sebaiknya mulai melakukan pengaturan aset investasi dengan cermat. Aset investasi dan dana yang tersedia masih dapat Anda maksimalkan untuk kenaikan modal pensiun. Anda bisa menempatkan dana sebagian dana di aset yang memberikan penghasilan pasif dan sebagian lagi tetap di aset investasi yang cukup agresif. Sebagai contoh, sebagian dari dana likuid dibelikan unit properti yang berpotensi memberi penghasilan sewa. Lalu, sebagian lagi tetap dikelola di produk keuangan seperti reksa dana untuk mengakumulasi potensi keuntungan. Cermati perkembangan investasi setiap tahun dan pastikan Anda memiliki dana darurat dalam jumlah yang ideal.

 

Alokasi aset investasi penting untuk dilakukan, terutama jika Anda punya aset-aset yang tidak diproduktif. Sebagian aset investasi yang akan digunakan sebagai sumber pendanaan biaya hidup, harus dikonversi menjadi tabungan atau deposito. Usahakan untuk menggunakan bagi hasil bulanan sebagai sumber penghasilan Anda.

 

Pensiun dini tidak selamanya menjadi suatu hal negatif dalam kehidupan seseorang. Dengan pengelolaan keuangan yang cermat, mungkin saja tahapan baru ini menjadikan keuangan keluarga Anda menjadi lebih sehat. Live a Beautiful Life!