Investasi Syariah di Pasar Modal

From The Desk of Iwan Pontjowinoto

 

Kini beragam jasa keuangan berdasarkan prinsip Syariah Islam marak ditawarkan di Indonesia. Anda tentu juga dapat melihat makin banyak penawaran untuk menyimpan uang di bank-bank berbasis Syariah.

 

Bagaimana dengan investasinya? Ternyata, masih banyak investor ragu-ragu  berinvestasi di pasar modal karena tidak yakin akan “kehalalannya”.  Secara umum, ada beberapa prinsip yang perlu dipenuhi agar investasi itu dapat menjadi Halal. Investasi harus bebas dari unsur gharar (tidak jelas), maysir (judi), dan riba.

 

Kisah Tiga Orang Membeli Sapi Betina

Sebutlah ada cerita tentang Arrasyad, Zahra, dan Imuh. Mereka bersama-sama membeli seekor sapi betina dengan harga Rp.9 juta. Mereka menjalin aqad untuk bersama-sama membeli sapi betina itu dengan harapan mendapatkan susu setiap hari dan mendapatkan anak sapi setahun sekali.

 

Dalam bahasa keuangan, investasi yang mereka keluarkan adalah modal untuk membeli sapi senilai Rp.9 juta. Adapun expected weekly income atau dividen yang mereka harapkan adalah 20 liter susu sapi setiap pekan, sedangkan expected annual capital gain yang mereka inginkan seekor anak sapi.

 

Itu berarti investasi Arrasyad = Rp.3 juta, Zahra = Rp3 juta dan Imuh = Rp  3 juta, masing-masing berhak memiliki 1/3 sapi betina tsb. Selama enam bulan berjalan, sapi itu bunting. Jadi, menurut paparan analis, investment outlook-nya bagus sekali.

 

Setelah berjalan lima bulan, mendadak Imuh perlu uang. Karena Imuh punya hak 1/3 sapi betina itu, Ia akan menjual bagiannya tersebut. Kalau sapi betina itu dipotong agar Imuh bisa mengambil bagiannya itu, Arrasyad dan Zahra tentu tak setuju. Sebab, niatnya mau berinvestasi di sapi betina yang hidup, bukan pada daging dan kulit sapi betina. Lalu bagaimana cara agar Imuh dapat mengambil bagiannya?

 

Cukup sederhana. Arrasyad dan Zahra dapat menggantikan hak Imuh. Alternatif lain, mencari orang lain yang mau mengambil alih hak Imuh. Pertanyaannya, berapa harganya? Tentu bukan lagi Rp.3juta. Sapi itu sudah bertambah gemuk dan saat ini bunting. Sapi betina itu lantas dibawa ke pasar dan ditawarkan kepada para saudagar sapi. Ternyata, harga rata-rata Rp.12 juta. Oleh karena itu, untuk mengambil alih hak Imuh, si pembeli harus membayar Rp.4juta.

 

Berinvestasi Syariah di Bursa Efek
Sekarang, kita anggap saja P.T. Telekomunikasi Indonesia (Telkom) adalah 20juta ekor sapi betina. Dengan begitu, orang-orang yang berinvestasi pada Telkom adalah pemilik bersama dari 20 juta ekor sapi betina tersebut. Untuk memperjelas kepemilikan, dibuatlah sertifikat, yakni seekor sapi mendapat tiga sertifikat atau saham.

 

Seperti cerita diatas, saudagar yang membeli bagian Imuh akan mendapatkan 1 sertifikat Telkom dengan membayar Rp. 4 juta. Bagi Imuh, selisih harga jual Rp.4 juta dikurangi harga beli Rp 3 juta adalah keuntungan (capital gain). Delapan liter susu setiap minggu yang diperoleh Imuh (1/3 x 24 liter) adalah weekly dividend.. Sedangkan, pihak yang mengatur mekanisme untuk menampung penawaran dan permintaan para saudagar sapi betina merupakan bursa efek.

 

Patut dipahami bahwa sebetulnya tidak ada paksaan untuk menjual atau membeli efek baik itu saham maupun obligasi di bursa efek. Selain itu, investor yang menjual efek tidak bisa memilih investor yang akan membeli efek yang dijualnya. Dalam hal ini, bursa efek harus menjaga transparansi atas kondisi keuangan dari emiten. Selama informasi tersebut tersedia secara tepat waktu dan akurat, maka unsur gharar dapat dihindari.

 

Selain itu, investor seharusnya memiliki kemampuan yang cukup untuk menganalisis peluang dan resiko investasi. Selama hal tersebut dipenuhi maka unsur maysir bisa dihindari.

 

Agar menjadi halal, maka emiten harus memenuhi syarat Syariah Islam, yaitu produk atau jasa yang diberikan tidak boleh haram atau syubhat, cara mengelola usaha tidak boleh zholim atau merugikan pihak lain serta cara memperoleh pendapatan maupun keuntungan tidak boleh bathil.

 

Jadi, jika Anda ingin memilih berinvestasi secara syariah, silahkan pada perusahaan yang memenuhi syarat tersebut.

 

Menjadi Investor yang Baik
Bila tidak bisa didapat seluruhnya, jangan ditinggal seluruhnya. Begitu petuah yang saya kerap dengar tentang investasi syariah. Tidak dapat dipungkiri bahwa sentimen pasar dan likuiditas keuangan mempengaruhi kondisi penawaran dan permintaan. Harga saham bisa berbeda jauh dari nilai pasar wajar.

 

Namun, kalau Anda memang serius untuk berinvestasi di saham suatu perusahaan, Anda tidak akan terpengaruh oleh anjloknya harga saham yang bersifat sementara. Alasannya, kondisi perusahaan masih bagus dan investasi anda ditujukan untuk jangka panjang.

 

Ceritanya menjadi lain bila memang prospek perusahaan kurang bagus. Salam!