Mengelola Uang Sedari Kecil

From The Desk of Prita Hapsari Ghozie

 

Beberapa waktu lalu kantor ZAP Finance, tempat saya bekerja diajak berkontribusi oleh Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, dalam roadshow mengelola keuangan di beberapa SMA unggulan di Jakarta. Banyak sekali pengalaman menarik dan pelajaran yang didapat. Kesempatan kali ini, saya akan berbagi kepada Anda.

 

Bila selama ini kita hanya fokus untuk menyadarkan pentingnya mengelola keuangan keluarga, maka saya salut dengan mahasiswa yang berinisiatif mengajari adik kelasnya. Mereka sadar, akar permasalahan keuangan merupakan akibat rendahnya kualitas Good Money Habit.

 

 

Butuh Waktu

 

 

Berdasarkan pengalaman saya sebagai perencana keuangan, umumnya orang baru peduli terhadap keuangan mereka bila terjepit utang kartu kredit, punya anak yang mau masuk sekolah, atau mau berutang untuk kredit rumah. Saat seseorang baru mendapatkan gaji, dunia serasa milik sendiri. Kerja sebulan, dapat gaji langsung habis untuk konsumsi. Jangankan mau investasi atau menabung, sisa gaji saja tidak ada.

 

Ternyata, hal ini berkorelasi dengan bagaimana kita diajarkan mengelola keuangan sejak kecil. Diajarkan? Rasanya saya tidak ingat ada pelajaran tentang personal finance di masa sekolah dulu. Sedikit berbagi pengalaman, saya pertama kali dapat penghasilan sendiri sejak masih SMP, honor pemotretan majalah remaja dan honor menari Ballet. Untung orang tua saya mengingatkan setengahnya harus ditabung. Sepertinya itu pelajaran tentang Personal Finance yang saya dapatkan.

 

Dari sekian ratus pelajar SMU yang hadir dalam roadshow, hanya dua anak yang memiliki penghasilan sendiri, selain mendapat uang jajan dari orang tua. Yang satu anggota band musik, dan yang lainnya suka berjualan fotokopi catatan sekolah. Dari dua pelajar itu, hanya satu yang mulai meyisihkan penghasilannya di tabungan biasa. Acungan jempol buat si anggota band!

 

Lalu, bagaimana dengan yang lain? Sumber penghasilan mereka hanyalah uang jajan dari orang tua yang di akhir bulan juga selalu habis tidak bersisa.  Wah, bagaimana mau mengajarkan mereka menabung dan berinvestasi, uangnya saja sudah tidak ada.

 

Yang juga membuat saya sedikit pusing, hampir setengah dari mereka punya telepon genggam sekelas BlackBerry dan iPhone. Bukan main!

 

Hal pertama yang saya coba kulik dari para pelajar adalah siapa yang mau jadi kaya? Tentu saja semua mengacungkan jari. Kemudian, saya tanyakan apa itu arti kaya? Semua pun diam seribu bahasa. Kembali ke konsep akuntasi, harta dikurangi hutang adalah kekayaan bersih.

 

Oleh sebab itu, walau seseorang banyak harta tetapi 80%nya berutang ya artinya tidak kaya. Begitu banyaknya tawaran cicilan dengan bunga murah bahkan 0% memang melenakan. Tapi, ini bisa menjadi sumber utang. Karenanya, dari sekarang, kita biasakan mengumpulkan uangnya dulu baru membeli barang yang diinginkan? Toh, tidak semua pembelian itu sifatnya darurat kan?.

 

 

Mulai sejak dini
Dalam kesempatan itu, saya memberikan ilustasi klasik kisah dua orang pelajar. Si Smarty Sam, 17 tahun, uang jajannya hanya Rp.500 ribu sebulan tetapi bisa berinvestasi Rp.200 ribu sebulan di reksadana saham  yang menjanjikan return 20% per tahun.

 

Si Deary Dean, 17 tahun, uang jajanya mencapai Rp. 1 juta sebulan tetapi tidak pernah bersisa. Untungnya, saat usia 22 tahun, Deary Dean sadar keuangan. Dan,  sejak bekerja, ia investasikan Rp.500 ribu sebulan ke reksadana saham.

 

Seperti yang sudah diduga, saat mereka berusia 30 tahun, saldo investasi Smarty Sam mencapai Rp.170 juta sedangkan Deary Dean hanya Rp. 150 juta. Padahal, Smarty Sam hanya menginvestasikan total Rp. 30 juta dari uangnya sedangkan Deary Dean mencapai Rp. 50 juta.

 

 

Sumber: ZAP Finance Research Division ©2009.

 

 

Kesempatan datang cuma sekali
Melihat ilustrasi tersebut, semua pelajar menyadari kesempatan baik yang dapat lewat begitu saja hanyak karena tidak peduli keuangan sejak dini. Bahkan, ada pelajar yang berkata ini salah satu cara membanggakan orang tua. Mampu jadi jutawan dari uang jajan. Acungan jempol untuk mereka.

 

Good money habit merupakan jawaban untuk permasalahan ini. Andaikan saja para pelajar ini diberi panduan bagaimana seharusnya mengalokasikan penghasilan, tentu semakin banyak generasi muda yang sebelum usia 20 tahun bisa menjadi jutawan.

 

Kebiasaan ini akan terus tertanam sehingga saat mereka memasuki dunia kerja, gaji sebulan pun sanggup dialokasikan untuk zakat, dana darurat, kebutuhan hidup masa kini, rencana keuangan jangka pendek, dan investasi untuk masa mendatang.

 

Mulai sekarang, generasi pelajar sudah harus kita bantu ajarkan untuk mampu berinvestasi dahulu, baru sisanya dipakai untuk kebutuhan mereka. Bisa karena biasa. Jika ditunda-tunda lagi, nantinya mereka akan lebih kesulitan  untuk mengontol pengeluarannya, apalagi untuk investasi.

 

Mungkin saja ada diantara Anda yang merasa hidup saat ini serba berkecukupan dan anak pun telah dibuatkan deposito dengan nilai ratusan juta rupiah. Percayalah, bantuan Anda tersebut mungkin berguna untuk lima tahun sampai sepuluh tahun pertama setelah mereka menjadi sarjana.

 

Namun, bagaimana dengan dana pensiun mereka? Dana pendidikan anak-anak mereka? Apa Anda masih mau membiayainya? Bila harus investasi sendiri, apa mereka dapat dengan mudah merubah kebiasaan konsumtif tanpa tersiksa? Ayo, kita sama-sama membangun generasi muda yang cerdas mengelola keuangannya.  Good thing does not come twice.

 

Semoga bermanfaat.

 

 

Live a Beautiful Life!